Powered By Blogger

Rabu, 24 November 2010

AIDS PERSFEKTIF AGAMA HINDU

Pengertian AIDS
AIDS adalah sekumpulan gejala-gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang berarti virus pemusnah kekebalan  tubuh. Penyakit ini sudah terdapat hampir di semua Negara, apakah di negara-negara maju ataupun di negara-negara yang sedang berkembang. AIDS juga diartikan gabungan bermacam-macam penyakit, gejala dan tanda-tanda yang timbul karena adanya penurunan kekebalan tubuh. Seperti diketahui bahwa system kekebalan tubuh adalah untuk mempertahankan tubuh dari infeksi dan penyakit. HIV yang masuk ke dalam tubuh akan menghancurkan sel-sel darah putih yang mempunyai peran utama dalam system kekebalan tubuh manusia. Dengan makin banyaknya sel darah putih yang dimatikan oleh HIV, akhirnya pertahanan tubuh manusia kian melemah sehingga  tidak sanggup lagi memerangi masuknya kuman, bakteri serta virus lainnya. Akibat selanjutnya dapat diduga bahwa penderita AIDS tersebut akan meninggal karena penyakitnya yang parah. Pada fase lanjut, HIV juga dapat menyerang sel otak dan susunan saraf tubuh secara langsung, sehingga menimbulkan gangguan mental dan koordinasi tubuh.

Penyebab Terjangkitnya AIDS
Seperti telah diuraikan sebelumnya virus HIV adalah salah satu penyebab terjangkitnya penyakit AIDS ke tubuh manusia. virus HIV yang telah masuk ke tubuh manusia akan menempati darah, air mani  dan cairan vagina. Apabila salah satu dari ketiga cairan tubuh dari orang terinfeksi HIV berhasil memasuki aliran darah orang lain yang masih sehat maka ada kemungkinan orang yang sehat ini akan terkena virus HIV dari orang yang sudah terinfeksi secara positif. Virus HIV mampu menembus tubuh manusia, kalau pada tubuh seseorang terdapat luka-luka atau goresan pada kulit tersebut. Lain halnya dengan vagina, penis, dubur dan mulut yang mempunyai selaput lendir (mukosa), yaitu lapisan tipis yang menutupi pembuluh-pembuluh darah di bawahnya. Lapisan itu mempermudah meresapnya virus HIV. Kalau pada daerah vagina, penis, dubur dan mulut terdapat luka atau goresan, maka mudah bagi virus HIV masuk ke dalam darah manusia.   

Cara penularan AIDS
Sebenarnya virus HIV tidak mudah menular ke tubuh orang lain seperti halnya virus influenza. Adapun cara penularan AIDS adalah :

a.  Melalui hubungan seksual
Yang dimaksud hubungan seksual di sini adalah hubungan yang dilakukan secara vagina, anal dan oral. Hubungan oral adalah hubungan seksual yang menggunakan mulut sebagai pengganti vagina mempunyai resiko lebih kecil dibandingkan hubungan vagina atau anal. Perlu diperhatikan bahwa selama hubungan kelamin berlangsung, air mani, cairan bagina dan kadang-kadang darah mengenai selaput lendir vagina, penis, dubur atau mulut akibatnya HIV yang terdapat dalam cairan-cairan tersebut dapat meresap ke dalam aliran darah. Tambahan pula kalau daerah vagina, penis, dubur atau mulut terdapat luka atau goresan, maka HIV mudah masuk ke dalam aliran darah.

b.  Transfusi darah
HIV dapat menular bila seseorang menerima transfusi darah dari seorang donor darah yang terkena infeksi HIV. Karena alasan ini, banyak Negara melakukan pemeriksaan secara teliti terhadap persediaan darah sebelum ditransfusi ke tubuh orang lain. Apabila pemeriksaan darah tidak dapat dilakukan, maka sebaiknya :
*  Mengurangi atau menghindari dilakukannya transfusi darah yang kurang perlu.
* Memilih donor darah yang tidak terinfeksi HIV atau sekurang-kurangnya  mempunyai resiko rendah untuk terinfeksi HIV.

c. Melalui alat suntik atau alat tusuk lainnya
Infeksi dapat terjadi bila seseorang diketahui atau tanpa diketahui sudah disuntik dengan jarum yang sudah dipakai untuk menyuntik orang lain yang terinfeksi HIV. Disamping itu juga alat-alat yang tajam seperti pisau bedah, atau jarum untuk membuat sayatan di kulit, menyunat seseorang, membuat tato juga dapat menularkan virus HIV.

d.  Dari ibu hamil yang mengidap virus HIV kepada janinnya
Bila sang ibu telah mengindap birus HIV, maka janin yang ada di dalam rahimnya dapat terinfeksi pada saat proses kelahiran berlangsung. Jika ibu baru terinfeksi HIV, tetapi belum menampakkan gejala-gejala AIDS, maka kemungkinan bayi yang dikandungnya terinfeksi 20% - 35%. Sebaliknya bila sang ibu benar-benar sudah menunjukkan gejala-gejala AIDS yang jelas, maka kemungkinan bayinya terinfeksi HIV menjadi 50%. Yang perlu diperhatikan adalah bila bayi tersebut dilahirkan sebagai pengindap HIV, maka usianya hanya sekitar 1-5 tahun saja.

Kapan dan Dimana HIV tidak menular
Sesuai hasil penelitian para medis diketahui bahwa virus HIV tidak akan menular melalui :
-    Peralatan makan , pakaian, toilet dan lain-lain yang dipakai bersama dengan pengidap HIV;
-    Berpelukan, berjabat tangan, berciuman dengan orang yang terinfeksi HIV 
-    Hidup serumah dengan orang yang terinfeksi HIV;
-    Serangga seperti nyamuk, kupu-kupu, tawon,  dan lain-lain.

Pandangan Hindu Terhadap AIDS
Sudah menjadi kodrat bagi kehidupan di bumi bahwa suka (kesenangan,kebahagiaan), dukha (penderitaan),lara (sakit) dan pati (kematian), tidak dapat dihindari oleh manusia, kenyataan hidup membutuhkan, beberapa orang mengenyam kebahagiaan dalam hidupnya,namun di pihak lain tidak sedikit orang mengalami penderitaan. Termasuk banyak orang menderita karena penyakit AIDS.

Di dalam ajaran Hindu dijelaskan bahwa sesungguhnya hampir tidak ada peristiwa/hal yang terjadi di jagad raya ini, lepas/terbebas dari hukum “Karma Phala” (sebab akibat). Setiap peristiwa yang terjadi (akibat) jelas dikarenakan/diakibatkan oleh satu “penyebab”, sebaliknya “sebab” (dikehendaki atau tidak) niscaya akan ada akibatnya. Semua ini tak dapat dihindari, sebab demikianlah dititahkan oleh Sang Pencipta (Tuhan), sebagaimana dapat dikaji dari nilai-nilai tersurat dalam Sloka Sarasamuccaya ,Sloka 7,berikut ini :

Karmabhumiriya bhahman, Phalabhumirasau mata
Iha yat kurute karma tat, paratropabhujyate 
Artinya  :
Sebab kelahiran sebagai manusia sekarang ini akibat baik atau buruknya karma itu juga yang akhirnya dinikmati karma phala itu.Maksudnya baik buruk perbuatan itu sekarang akhirnya terbukti hasilnya, selesai menikmati menjelmalah ia kembali, mengikuti sifat karma phala. Wasana berarti sengsara, sisa-sisa yang ada dari bau sesuatu yang tinggal bekas-bekasnya saja, itulah yang diikuti sebagai pribahasa, kelahiran dari surga (swarga cyuta), kelahiran dari neraka (neraka cyuta) baik buruk karma itu di surga, tanda ada pahalanya. Karena itu pergunakanlah sebaik-baiknya hidup ini untuk melakukan perbuatan baik
   
Bertolak dari kajian di atas maka dapat dinyatakan bahwa adanya berbagai penyakit, termasuk AIDS pun, tentunya menerima ciptaan Tuhan sebagai Maha Pencipta. Dalam kaitan pembahasan penyakit sebagaimana tersebut di atas perlu kita cermati  Sarasamuccaya, Sloka 30,berikut ini  :

Pura cari ramantako bhinakti, Rogasarathih
Prasahya jiwitaksaye cubham, Mahat samaharet 
Artinya  :
Sebab yang disebut kematian, segala macam penyakit itu merupakan pengemudinya, yang menyebabkan hidup itu berkurang, jika sudah kurang usia hidup datanglah maut, karena itu jangan lupa supaya diusahakan berbuat baik yang akan mengantarkanmu ke asal mulamu.

    Berdasarkan  “Sloka” atau ayat tersebut jelaslah bahwa penyakit dimaksud diadakan ke dunia oleh Sang Pencipta untuk maksud tertentu dan juga disebabkan oleh sebab-sebab tertentu. Sebab-sebab tersebut pada hakekatnya dikarenakan oleh unsur manusia sendiri terutama oleh kelalaian atau pelanggarannya atas hukum-hukum kehidupan yang telah ditentukan oleh Tuhan. Justru untuk memberikan peringatan atau bahkan ganjaran kepada prilaku-prilaku manusia yang melanggar norma-norma  hidup di jagad raya ini.

    Kemungkinan –kemungkinan untuk adanya pelanggaran norma tersebut tadi dapat saja terjadi , mengingat manusia memang diberi kekuasaan dalam hal-hal tertentu oleh Tuhan untuk berpikir dan mengembangkan kehidupannya guna mencapai tujuan hidupnya.

    Dalam keleluasaan itulah, sekaligus terdapat peluang adanya variasi/yang bahkan terkadang berkategori Asubha Karma atau yang dalam hidup keseharian disebut dengan penyimpangan hidup. Kemungkinan timbulnya penyimpangan itulah yang telah diantisipasi oleh Sang Pencipta dengan memberikan konsekwensi terhadap penyimpangan tadi berupa “penyakit”. Tentunya diharapkan dengan penyakit-penyakit tersebut dalam diri manusia akan timbul rasa takut untuk melanggar norma-norma hidup yang telah digariskan. Demikian pula bagi yang terlanjur membuat kekeliruan dengan ancaman (penyakit) tersebut, yang bersangkutan dapat menjadi jera atau kapok.

    Walaupun sampai saat ini penyakit AIDS belum ditemukan obatnya, kita tidak boleh menyerah begitu saja, paling tidak kita harus berupaya untuk menghadapinya dan berusaha menyelamatkan tubuh kit aini, yang merupakan anugrah Tuhan yang paling berharga dalam rangka mencapai tujuan hidup kita. Berkenan dengan hal tersebut, Weda menyatakan ” Dharmartha kama moksanam sariram sadanam ”  yang artinya tubuh (mu) itu adalah sadana/sarana untuk meraih tujuan(mu) berupa dharma, artha, kama dan moksha.

Menyadari  peranan tubuh yang demikian penting,maka kita(yang belum sakit) perlu waspada agar tidak terjangkit. Demikian pula yang telah dinyatakan positif mengidap AIDS, agar bisa menerima dengan jiwa besar,serta mencari upaya penanggulangan lewat petunjuk weda dan vidya (pengetahuan). Bukankah kesehatan selalu tampak lebih berharga setelah kita kehilangannya demikian pesan para bijak.

     Sebagai kesimpulan, Hindu memandang bahwa HIV/AIDS ada didunia ini dimaksudkan sebagai rem/pengendali perilaku manusia terutama yang cenderung akan menyimpang dari  dharma (kebaikan/kebajikan/moralitas). Adharma  atau perbuatan yang tidak baik  yang bertentangan dengan agama hendaknya dihindari  sehingga tujuan hidup didunia yaitu Catur Purusa Artha dapat tercapai.
   


Referensi :
1.    Kajeng, I Nyoman dkk, 2003, Sarasamuscaya,  Paramita , Surabaya.
2.    Tim Penyusun,2003, Pencegahan dan Penangulangan AIDS Menurut Pandangan Hindu, Depag RI, Jakarta.
3.    Yatim, Danny Irawan, Dialog Seputar AIDS, Grasindo,Jakarta.
.






Rabu, 10 November 2010

MENINGKATKAN BUDAYA MEMBACA DAN MENULIS ( Memaknai Hari Raya Saraswati)

Salah satu peninggalan Almarhum Pak Harto yang layak dilestarikan dan terus diberi makna adalah penetapan bulan Mei sebagai “Bulan Buku” dan bulan September sebagai “Bulan Gemar Membaca”. Buku dan gemar membaca adalah dua hal yang terkait erat dengan kegiatan menulis. Untuk membaca, kita perlu buku;untuk menerbitkan buku harus ada penulis, dan tentu saja penerbit. Untuk bisa menulis kita perlu banyak membaca.

Banyak orang tahu membaca,tetapi belum punya budaya membaca. Apalagi menulis. Tulisan kecil ini mau mengajak kita terutama generasi muda,untuk menumbuhkan gemar membaca dan astungkare,jika kemudian hari gemar menulis.      Dulu, orang yang tahu baca-tulis adalah orang yang paling beruntung . Ia bisa diterima bekerja. Ia dengan mudah diangkat menjadi pegawai atau karyawan pada perusahaan swasta. Sekarang sudah jauh berbeda, kita hidup di zaman yang  menjunjung tinggi kualitas,wawasan yang luas,kompetensi keilmuan,kreativitas dan daya saing  globalisasi. Kita dituntut untuk memiliki kemampuan yang lebih daripada sekedar tahu membaca. Kontek dunia dengan globalisasi dan modernisasi yang kuat mensyaratkan manusia-manusia yang berkualitas,mandiri,kreatif dan inovatif. 
   
Tantowi Yahya,seorang presenter yang dinobatkan sebagai Duta Baca oleh perpustakaan RI, di sebuah iklan layanan di stasiun televisi, mengatakan "orang yang jarang baca sangat dekat dengan kebodohan, dan kebodohan dekat dengan kemiskinan". Mengacu pada iklan tersebut, mari kita renungkan bersama sementara di level mana kita berada ? Di level gemar membaca ataukah di level jarang membaca?. 

**   
Tingkat buta huruf umat Hindu yang masih tinggi bila dibandingkan dengan agama lain. Memerlukan usaha dan kerja keras bersama untuk menuntaskannya. Setidaknya ada dua hal penting yang mesti diperhatikan untuk memberikan makna yang lebih berarti bagi perayaan hari Saraswati. Pertama: pembenahan mutu pendidikan Hindu di setiap jenjang. Dengan berbagai aspek antara lain : peningkatan kesejahteraann guru, perbaikan kurikulum,sistem pendidikan, peningkatan kualitas dan kuantitas guru agama khususnya di luar  Bali, pembenahan sarana dan sarana pendidikan seperti pembenahan kualitas perpustakaan, kerja sama dengan orang tua siswa, dll. Kedua : menjadikan aktifitas membaca sebagai budaya. Yah membaca buku  harus dibudayakan, sebab buku adalah jendela dunia. Dengan membaca kita jadi melek pengetahuan. Budaya membaca merupakan prasyarat dasar untuk mengetahui lebih banyak tentang kompleksitas persoalan dunia tempat kita berpijak, dengan segala harapan dan kecemasan yang menghantui. Setiap peluang dan tantangan yang menghadangnya. Dengan membaca kita memperoleh berbagai informasi , memperdalam pengetahuan, melatih ketrampilan dan   meningkatkan kecerdasan. Kita bisa berkelana kemana-mana walau kaki tetap dirumah dengan membaca buku.     

Teknologi boleh berkembang pesat, koran, majalah, buku-buku melimpah, internet, akan tetapi bila masyarakatnya tidak punya minat baca, maka semuanya akan  menjadi tidak berguna dan nihil makna. Kita akan tetap miskin ilmu dan miskin informasi. Kita akan tetap berada ‘dalam tempurung’. Kita akan tetap menjadi becak ditengah arus busway yang melintas dengan cepatnya.      

Tidak dapat dipungkiri, bahwa budaya membaca  umat masih rendah dan harus ditingkatkan. Budaya berkumpul dan budaya lisan masih sangat kuat mengikat masyarakat kita. Jangankan masyarakat non akademis, masyarakat akademis pun masih “jauh panggang dari api” . Minat baca dosen,guru,mahasiswa dan siswa masih jauh dari harapan.      

Tantangan dan hambatan yang  terberat membaca saat ini adalah hadirnya televisi. Kapan saja, dimana saja jika memungkinkan, orang lebih senang mengikuti berbagai acara televisi,terutama acara hiburannya. Format acara televisi sama dengan teater , yang meneruskan budaya lisan.  Dari televisi kita melihat dan mendengar . Imajinasi tidak berkembang bebas,karena di kontrol oleh gambar (image). Dan jika suatu acara dianggap penting kita perlu ‘membacanya’ kembali, ia sudah tidak ada. Begitu juga dengan internet , kemampuannya menyiapkan berbagai informasi hanya dapat digunakan jika dibaca.    

 Dengan terbit dan beredarnya majalah seperti Media Hindu, Raditya,Sindu,Suara Anandam dan yang lainya. Yang memuat tema sentral nilai-nilai Hindu dalam kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan di Indonesia. Khusus buku-buku terbitan Media Hindu yang mendapat sambutan hangat dari umat yang haus akan bacaan yang bermutu,berani, dan kritis.Kedepan diharapkan minat baca umat semakin meningkat Sehingga bukan sekedar tahu membaca tetapi menjadikan aktivitas membaca sebagai budaya..    

Perlu juga dipikirkan pemberian hadiah berupa buku pada perayaan ulang tahun, juara kelas, pernikahan, perpisahan ,dll, bukan hanya sekedar ajang “kumpul amplop” melainkan sebagai ajang “kumpul buku” untuk menumbuhkan minat baca. Dana Punia yang terkumpul pada Hari Raya Saraswati disisihkan untuk perbaikan kualitas perpustakaan yang ada dimasing-masing pura. Hal ini bukan tidak mungkin dicapai bila ada niat dan tekat kuat serta kesungguhan untuk mengusahakannya. Dengan demikian perayaan Saraswati tidak hanya sekedar melakukan ritual semata tetapi menjadi momen untuk menumbuhkan budaya membaca.. Semoga terwujud.

Senin, 01 November 2010

MEMBANGUN SURGA

Kata Surga berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "Svarga" .Kata ini diserap ke dalam bahasa jawa kuno menjadi "Swarga". Dan kata ini menjadi Surga dalam bahasa Indonesia. Kata Svarga berasal dari kata "svar" artinya cahaya dan "ga" artinya perjalanan. Dengan demikian, surga pada mulanya berarti perjalanan ke dunia cahaya. Atau menjadi satu dengan cahaya. Di dalam surga ada "swargaloka" yaitu tempat para makhluk yang bercahaya seperti : Dewa, Maharsi, dan orang suci yang telah mencapai keabadian. Surga adalah bagian dari tiga dunia (Triloka). 


Surga adalah dunia atas bukan tempat tujuan terakhir. Bukan pemberhentian yang terakhir, ia hanyalah  stasiun menuju alam spiritual sejati (Moksha). Surga adalah sasaran antara untuk perjalanan berikutnya yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. Menyatunya jiwa individu dengan jiwa universal.Surga dan Moksha  adalah kehidupan yang akan datang yang harus dibangun sejak kehidupan kita sekarang di bumi ini. Manusia dapat belajar untuk meningkatkan dan menyempurnakan dirinya di bumi ini. Dan inilah tujuan sesungguhnya dari kelahiran manusia di dunia.. Di lahirkan menjadi manusia sungguh utama sebab dapat menolong dirinya sendiri dari kehidupan sengsara dengan jalan berbuat baik. Hal ini dijelaskan dalam Sarasamuscaya sloka 4,5 dan 6. berikut petikan sloka tersebut.

Iyam hi yonih prathama yonih prapyajagatipate
atmanam cakyate tratum karmabhih subhalaksanaih (sloka 4)

Ihaiva narakavyadhescikitsam na karoti yah
gatva nirausadham sthanam sarujah kin karisyati (sloka 5)

Sopanabhutam svargasya manusyam prapya durlabham
tathatmanam samadayad dhvamseta na punaryatha (sloka 6)


Artinya :

Menjelma menjadi manusia adalah sungguh-sungguh utama,karena ia dapat menolong dirinya dari keadaaan sengsara dengan jalan berbuat baik.

Adalah orang yang tidak mau melakukan perbuatan baik (orang semacam itu) dianggap sebagai penjahat yang menjadi obat neraka loka.

Kesimpulannya, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia yang merupakan tangga untuk pergi kesurga, segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi itulah hendaknya dilakukan.

Pada sloka 4, menjadi manusia adalah sungguh utama dan itu patut kita syukuri. Syukur tidak hanya sekedar berterimakasih . Syukur adalah  memberdayakan anugrah Tuhan pada diri kita. Kita gunakan mata untuk melihat hal-hal yang baik. Gunakan telinga mendengar hal yang baik pula. Intinya tubuh ini digunakan untuk berbuat kebaikan. Dengan begitu akan menolong diri kita dari kehidupan sengsara. Segenap indera dan pikiran  digunakan untuk menghasilkan manfaat bagi kehidupan secara luas.

Pada sloka 5, orang yang tidak mau berbuat kebaikan di muka bumi, malah sebaliknya melakukan kerusakan di bumi, orang demikian sakitlah keadaannya. Beribadah rajin kepada Tuhan,  tetapi ia merusak ciptaan Tuhan itu sendiri yang pada gilirannya menyengsarakan dirinya dan orang lain disekitarnya. Contohnya penebangan hutan yang tak terkendali berakibat pada perubahan iklim. Kalau musim panas terasa panas sekali, sedangkan kalau musim hujan bisa berakibart banjir dan tanah longsor. Rusaknya lapisan atmosfir juga akibat ulah manusia itu sendiri. Singkatnya berbuat kerusakan dibumi itu artinya  kita telah menggali lubang kesengsaraan(neraka) bagi diri sendiri. Ketika manusia tidak bisa mengontrol tindakan dan keinginannya itulah neraka sesungguhnya yang kita alami di bumi ini. Jadi bangunlah surga semenjak kita ada di bumi, berdamailah dengan alam agar kita pun dilindungi oleh alam.

Pada sloka 6, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kehidupan menjadi manusia, karena dengan itu kita telah membangun tangga menuju sorga. Bagaimana kita melanjutkan perjalanan menuju surga , bila tempat kita berpijak ini kehidupannya sudah hancur? Untuk menuju kesana, kita butuh persiapan dan proses yang panjang ibarat anak tangga bertahap kita menapakinya. Setelah itu kita pun harus menyiapkan bekal bila akan bepergian jauh. Namanya bekal,ya harus kita persiapkan sebelum kita berangkat menuju tujuan yang hendak dicapai. Begitu juga bila ingin meraih surga, maka di bumi inilah kita harus menyiapkan bekalnya, dibumi inilah kita menanam sebanyak-banyaknya kabaikan sebagai bekal menuju kehidupan yang akan datang.

Bumi,langit dan seluruh isinya merupakan sarana yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk menyempurnakan dirinya. Alat dan sarana ini dapat digunakan untuk membangun masa depan. Namun karena alat dan sarana yang ada perlu perawatan atau pemeliharaan. Kita tidak boleh menggunakannya sembarangan dan menyiakan-nyiakan kesempatan yang amat utama yang diberikan oleh Tuhan. Bumi ini menjadi tangga bagi perjalanan berikutnya, agar anda tidak jatuh rawatlah tangga yang sudah diberikan oleh sang pencipta.

Kesimpulannya adalah" mendengar yang baik,melihat kebaikan dan berbuat baik, kebaikan yang dipikirkan. Demikian engkau menjadi baik, dan itulah jalan menuju surga" demikian pesan dari Satya Sai Baba.