Powered By Blogger

Selasa, 15 Maret 2011

NARKOTIKA DAN KENAKALAN REMAJA PERSPEKTIF AGAMA HINDU

Pendahuluan 
Hampir seluruh bangsa-bangsa didunia telah menyadari betapa bahayanya penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang ,baik terhadap kesehatan jasmani dan rohani maupun bahaya yang ditimbulkan sebagai akibat sampingan yang mengancam aspek-aspek ketertiban hidup masyarakat baik terhadap negara itu sendiri maupun bangsa-bangsa di dunia pada umumnya. Karena luasnya lingkup jangkauan bahaya, diperlukan kerjasama yang baik antar berbagai elemen seperti pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat,tokoh pemuda,LSM dan para penegak hukum.  

Narkotika dan kenakalan remaja
Istilah narkotika yang dikenal di Indonesia berasal dari bahasa Inggris " Narcotics" yang berarti obat bius, yang sama artinya dengan kata " Narcosis" dalam bahasa Yunani yang berarti menidurkan atau membiuskan. Narkotika adalah sejenis zat yang  penggunaannya di Indonesia di atur dalam undang-undang nomor : 9 th 1976 tentang narkotika. Istilah narkotika adalah sejenis zat bila digunakan akan membawa efek dan pengaruh tertentu pada tubuh si pemakai seperti penenang, perangsang dan menimbulkan halusinasi. Pemakai yang telah kecanduan akan narkotika,bila tidak dicegah (diobati), semakin lama penggunaan dosisnya semakin besar sehingga akan semakin parah. Untuk memenuhi keinginannya pecandu akan berbuat apa saja asal ketagihannya bisa terpenuhi. Dalam sebuah berita pada stasiun televisi SCTV (21/2/2006) dimana pemasok narkoba untuk para santri di Jombang ditangkap dan seorang pemuda di Makasar  mengamuk dan menganiaya orang tuanya karena ketagihan narkoba dan ibunya tidak memberinya uang. Ini contoh kecil akibat dari pengunaan narkoba.

Bahaya narkoba tidak hanya terhadap pribadi sipemakai, melainkan juga gangguan  terhadap masyarakat sekitar seperti terjadinya berbagai kecelakaan lalulintas, kejahatan,abnormalitas dan akibat sosial lainnya. Para pecandu narkoba adalah orang-orang yang jiwanya rapuh,labil dan kurang tegar dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin berat dan semakin sulit dimasa krisis ini. Mereka menjadi pengguna (pecandu) hendaknya dilihat sebagai korban,sebagai orang sakit yang perlu ditolong dan tidak serta merta di cap sebagai pelaku kriminal. Sebagian dari mereka menjadi pengedar atau pecandu karena terpaksa karena himpitan ekonomi, atau terjerat oleh bandar-bandar narkoba. Banyak kasus seperti tukang ojek,abang becak, pedagang kaki lima dan ibu rumah tangga menjadi pengedar karena alasan ekonomi dan itu terpaksa dilakukannya yang pada gilirannya menyeret mereka masuk kelembah hitam.     

Kenikmatan menggunakan narkoba hanya sesaat dan kerugian yang lebih besar akan kita terima kemudian sebagai akibat dari karma yang kita perbuat. Perasaan pusing yang tak berkesudahan,kekurangan duit,mabuk, menjual barang yang ada dirumah atau mencuri akan seterusnya menjadi kebiasaan yang jelek yang mengikis rasa malu kita sebagai manusia. Kenikmatan sesaat itu harus dihentikan oleh diri sendiri dengan cara menyayangi diri kita, menjalani hidup dengan baik ,sehat dan tidak merugikan masyarakat lain. Pelampiasan yang salah dari remaja akibat  stress , bete, pengangguran,krisis eksistensi,krisis mental,dekadensi moral dan krisis kreatifitas,  dengan mengkonsumsi narkoba, miras dan pergaulan bebas sehingga berdampak sangat rentan terhadap virus HIV/AIDS.     

Untuk dapat terhindar dari bahaya narkotika, remaja mesti menggali potensi diri yang ada dan diarahkan kehal-hal yang positif seperti berolahraga, seni, budaya, membaca, ikut organisasi kepemudaan. Khusus olahraga, pemuda NTT memiliki potensi yang sangat besar dan ini telah dibuktikan dengan beberapa generasi muda NTT berhasil menjadi juara tingkat Nasional dan Internasional. Nama Oliva Sadi,Kris Jhon dan Jeems Abane sudah tidak asing lagi bagi kita  yang telah mengharumkan bangsa Indonesia dan Kabupaten Belu. ."Pemuda dan olahraga adalah dua pilar bangsa yang sama berperan menguatkan nation and character building (pembangunan karakter bangsa)" kata Menpora Adhyaksa Dault (Pos Kupang, 15 April 2006). 

Lewat olahraga generasi muda dapat membangun diri dan bangsa ini. Ini adalah kesempatan emas untuk kesusksesan dimasa depan. Nasib ada ditangan anda sendiri kawula muda. Ibarat anak panah ,akan menuju arah mana  tergantung dari sipemegang busur panah itu sendiri yaitu anda sendiri.     Adanya sindikat  peredaran narkotika  internasional, yang menempatkan Indonesia sebagai negara produsen narkoba kelas dunia. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya pabrik pembuatan ectasy dan shabu-shabu di Kampung Tegal,Desa Cemplang,Kecamatan Jawilan, Banten pada tanggal 11 Nopember 2005. Pabrik seluas 4 ha dengan bangunan terdiri dari 2 unit masing-masing untuk pabrik ectasy dan shabu-shabu. Ketika polisi menggerebek tempat tersebut, polisi menemukan 62,4 ton bahan shabu-shabu dan 100 kg ectasy siap ekspor yang sampelnya telah dikirim ke Hongkong. Dari hasil pengumpulan barang bukti, ternyata pabrik tersebut dapat menghasilkan narkoba senilai Rp 23 triliun pertahun, hingga menggalahkan dana anggaran Departemen Pertahanan yang jumlahnya Rp. 21,977 triliun. Hal ini telah membuat ibu Negara Republik Indonesia Ani Susilo Bambang Yudoyono merasa prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia , yang tidak hanya telah menjadi daerah pemasaran narkoba secara gelap tetapi juga menjadi negara produsen.  

Penyalahgunaan narkoba ditinjau dari agama Hindu.     
Agama Hindu  memandang semua benda yang ada di alam semesta ini, pada prinsipnya adalah sama, hanya saja karena sifat dan bentuk dari benda itu berbeda, sehingga manusia memandangnya berbeda pula. Sebagai contoh racun bisa membantu  kehidupan manusia untuk membasmi serangga kalau digunakan secara tepat,kalau penggunaannya keliru tentu  berakibat fatal. Demikian pula narkoba yang penggunaannya khusus di bidang pengobatan dan penelitian ilmiah di bawah pengawasan dan tanggung jawab dokter dan apoteker. Penggunaan dengan dosis  yang diatur dokter tidak akan membawa  akibat yang membahayakan bagi tubuh  yang bersangkutan. Tetapi kalau penggunaan dan dosisnya kita yang menentukan , maka kecanduan akan selalau menghantui si pemakai bahkan tidak jarang ada yang meninggal karena over dosis.      

Menurut agama Hindu, pikiranlah yang membedakan suatu benda itu baik atau tidak. Terkait dengan pikiran itu, kitab Sarasamuscaya sloka 87 menyebutkan : "lagi pula hendaknya engkau selalu ingat , bahwa kesucian pikiran seseorang sesungguhnya diikuti oleh perbuatannya. Sesungguhnya seorang ayah yang mencium istrinya dan mencium pula anaknya,namun berbeda parasaan ayah itu selagi mencium keduanya …"  Jadi pikiranlah yang menyebabkan perbuatan itu berbeda. Demikian pula dengan narkoba itu, barangnya satu (sama) tetapi mempunyai arti dan nilai yang berbeda pula dikalangan masyarakat. Bagi seorang dokter narkotika  adalah penting bagi pengobatan dan penelitian ilmiah. Bagi pecandu narkotika adalah satu-satunya barang yang dapat memberikan kepuasan hidup.    

Suatu benda  dapat menimbulkan  kebaikan, tetapi dilain pihak menimbulkan keburukan. Kedua unsur ini di sebut Rwa Bhineda. Demikian halnya masalah narkoba, disatu pihak berguna sebagai obat dengan dosis yang wajar dan tepat, dilain pihak dapat menimbulkan bahaya bagi si pemakai bila digunakan dengan dosis yang berlebihan. Dalam ajaran Hindu, perbuatan yang berlebih-lebihan adalah tidak baik dan tidak dibenarkan, seperti makan yang berlebih-lebihan yang disebut dengan Ahara Lagawa.     Samaveda 415.5 menyebutkan sebagai berikut : " tarastra mandi ahawati dhara, sutasyandhasah tarastra mandi dhawati " artinya : bergerak cepat pemberian kebahagian itu,laksana cairan yang mengalir,hendaknya nikmati dengan baik ,akan murka jika engkau serakah akan cairan soma itu, dapat mengakibatkan umur pendek "    . Dalam sloka  diatas, bahwa air soma adalah cairan yang memberikan kebahagiaan, kekuatan dan kesehatan dengan reaksi cairan dalam tubuh yang cepat. Bila dinikmati sesuai dengan kebutuhan akan berguna bagi tubuh. Tetapi bila serakah akan menimbulkan umur pendek. Sarasamuscaya sloka 256 menyebutkan : " Janganlah hendaknya mengambil barang orang lain, janganlah meminum-minuman keras dan obat-obatan terlarang, melakukan pembunuhan, berdusta, karena itu akan menghalangimu untuk menyatu dengan Tuhan".     Pencegahan dini dari bahaya narkoba dijelaskan dalam Sarasamuscaya sloka 300 sebagai berikuit ; " ….. lekas benar pergaulan itu memindahkan sifat tidak baik maupun yang baik,kepada orang yang selalu bergaul dengan orang yang bersifat utama dan orang yang jahat. Buktinya bau harum bunga beralih kepada kain, air, dan minyak disebabkan persentuhan dengan bunga itu " . Maka hendaknya generasi muda pandai-pandai dalam memilih teman dan yang utama adalah pengendalian diri serta kesadaran untuk memperbaiki diri bila sudah terlanjur mengkonsumsi narkoba. 

Sarasamuscaya 324 dan Atharwa Weda XX.81.1 menyebutkan pentingnya pengendalian diri agar terhindar dari perbuatan jahat : " adapun orang yang melakukan perbuatan jahat  itu,dinamakan orang yang tidak sayang pada diri sendiri,karena dirinya sendiri berbuat kejahatan itu (karenanya) dirinya sendirilah yang  akan mengalami akibatnya kelak ". (SS.324)" Kita tidak harus mengalah kepada sifat-sifat yang buruk dan perbuatan jahat yang membuat kehidupan menjadi menderita" (AW.XX.81.1) Kitalah yang harus memikirkan tentang diri sendiri dan masa depan kita. Tetapi bukankah orang yang memikirkan diri sendiri  itu orang yang egois ?? memang, pandangan itu ada benarnya juga jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga untuk diri sendiri.   Tapi yang dimaksud disini adalah memikirkan diri sendiri ,justru sebagai upaya sadar  dan sungguh-sungguh untuk dapat terhindar dari bahaya narkoba. Mengubah diri dengan sadar sebenarnya sama dengan mengubah  orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah katapun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Kegigihan kita memperbaiki diri  akan membuat orang lain  melihat dan merasakannya oleh karena itu , sudah sepatutnya jika kita menanamkan keyakinan di dalam diri kita bahwa " jika saya tidak berubah, saya akan celaka"," jika saya tidak mengubah diri, saya tidak akan bisa mengubah apapun atau siapapun " dan " jika saya tidak mengubah diri berarti saya akan manghancurkan hidup saya yang berharga ini ". 
 
Penutup.     
Berikut ini tips untuk mengenal lebih awal pemakai narkoba sebagai berikut : 
1. Terjadi perubahan sikap  dari periang menjadi pendiam. 
2. Biasanya banyak omong jadi mengurung diri dikamar. 
3. Tiba-tiba ada barang dirumah yang hilang. 
4. Ada perintilan-perintilan tidak jelas disudut-sudut kamar, botol untuk shabu-shabu, uang kertas yang dilinting-linting di ujungnya ada bubuk putih. 
5. Kartu telepon  untuk menggerus kokain. 
6. Kertas alumunium voil tiba-tiba hilang. 
7. Korek api gas tidak los untuk bakar kompor. 
8. Jarang pulang. 
9. Shabu-shabu bentuknya seperti gula batu, kokain seperti tepung terigu tapi lebih putih, putauw dan morfin warna putihnya agak krem.(Gemari,edisi 55/Tahun VI. Agustus 2005 ha.11

SALAHKAH MATA MELIHAT

Melihat seorang Yogi 
Aku iri 
Penampilan luarnya tak menawan 
Tapi 
Hatinya sangatlah rupawan  

Melihat seorang politisi 
Aku ngeri 
Penampilannya menawan 
Tapi 
Hatinya diselimuti korupsi,kolusi dan 
Ambisi menang sendiri 
Salahkah mata melihat?

Jumat, 11 Maret 2011

BERGURU PADA TANAMAN

Guru tidak hanya ditemukan di sekolah-sekolah atau di kampus-kampus. Guru disekolah adalah guru formal. Dia mengajari kita membaca,menulis dan berhitung.  Tetapi, saat ini penulis mengajak kita berguru pada alam (tanaman).

Belajar dari bunga. Setiap manusia pada dasarnya menyenangi bunga. Ada yang digunakan untuk sembahyang, ada yang memelihara karena hobby, ada yang menggunakannya untuk relaksasi dan masih banyak lagi manfaat yang lainnya. Bunga memang menarik baik dari segi bentuk, warna serta aromanya yang khas. Adakah anda memperoleh pengetahuan darinya? Pelajaran yang dapat dipetik dari bunga adalah bunga hidup untuk orang lain bukan untuk dirinya. Ia memberikan madunya yang lezat kepada lebah-lebah (hewan) yang membutuhkannya. Bunga tidak egois, ia memberikan yang terbaik bagi yang lain. Begitulah hendaknya manusia hidup didunia. Kehidupan kita bukan hanya untuk keluarga, bukan untuk partai tertentu atau golongan tertentu melainkan untuk semua ciptaan Tuhan. Kalau memberi sesuatu, berikanlah yang terbaik. Apakah itu berupa benda, berikan yang masih layak. Apakah pemberian berupa senyuman, berikanlah dengan tulus.dan ikhlas. Jangan sampai pemberian kita justru merendahkan orang yang menerima pemberian tersebut. Termasuk dalam berdoa , manusia masih egois hanya berdoa untuk dirinya sendiri.

Pelajaran berikutnya bunga kelihatan indah bukan untuk dirinya melainkan bagi   yang memandangnya (manusia). Sudahkah kita meneladaninya? Kebanyakan dari kita masih sibuk mempercantik dirinya sendiri lalu melupakan orang lain yang memandangnya. bahkan tidak sedikit kita merasa kesal melihat tingkah laku orang yang berlebih-lebihan. Memamerkan  harta yang berlebih hasil dari korupsi dan manipulasi membuat orang sekitar merasa iri. Memajang mobil mewah hasil dari menjarah. Rumah bertingkat dari hasil sindikat. Uang berlimpah hasil money loundrying .Orang yang melihatnya merasa    terhina karena kerja kerasnya dan kejujurannya diabaikan.

Pelajaran berikunya, bunga hidup mandiri. Ia memupuki dirinya sendiri dengan daun yang telah ia gugurkan karena sudah tua. Tukbuhan juga tidak melarikan diri dari ancaman melainkan meraka menghadapi ancaman atau tantangan dengan membangun sistem pertahanan yang kokoh dan spesifik (lihat pohon bambu dan pinus). Bagaimana dengan manusia? Di negara kita masih banyak hidup karena subsidi. Subsidi tiada lama-lama kita mati berdiri. Dengan bantuan beras murah, banyak masyarakat malas berusaha lebih giat. Intinya kemandirian manusia masih lemah tergantung pada pihak lain. Termasuk bangsa ini, yang membangun dari uang pinjaman luar negeri yang diwariskan ke anak cucu kita.

Pelajaran yang lainnya adalah tanaman itu ulet dalam mencari makanan dan air. Contohnya tanaman santigi. Ia tumbuh di celah batu cadas, tubuhnya kecil dan lemah dalam persfektif manusia. namun kuat dan gigih menghadapi gelombang laut, panasnya sinar matahari, rendahnya ketersediaaan air dan minimnya makanan berupa mineral.

Pelajaran yang lain dari tanaman adalah cerdas dan arif. Coba kita perhatikan tanaman bakau yang tumbuh di muara sungai berlumpur. Ia mengecambahkan dan menumbuhkan benihnya sebelum dilepaskan ke habitat yang berlumpur,sehingga anaknya tidak mati tenggelam. Akarnya untuk bernapas di tonggakkan keudara bebas agar mudah mengambil oksigen.

Masih banyak pelajaran yang bisa kita petik dari tanaman yang ada di sekitar kita, bila kita mau belajar darinya. Bukankah Hindu mengajarkan keselarasan dengan alam? Maka dari itu bersahabat dan belajarlah dengan alam. "Alam adalah apa yang Tuhan buat sebagai Tuhan" demikian pesan seorang Hazrat Inayat Khan seorang sufi terkenal. Selamat belajar semoga adamanfaatnya.

 

Selasa, 21 Desember 2010

BHAKTI DAN CIRI-CIRINYA

PENGERTIAN BHAKTI   
Bhakti berasal dari urat kata BHAJ yang artinya terikat kepada Tuhan. Dari urat kata ini terbentuk kata bhakti yang berarti kasih sayang kepada Tuhan Dari urat kata BHAJ terbentuk kata BHAJAN yang mengandung arti :  bhakti sepenuh hati dan  bhakti sambil bernyanyi (nyanyian suci kepada Tuhan).     Ada beberapa kata yang bersinonim dengan kata bhakti antara lain : Prarthana, Sandhya, Upayana, Dhyana, Puja, Stava, dll. Menurut Rsi Naradha, ciri orang bhakti adalah : Tidak mempunyai rasa takut, merasa aman, meyakinkan, prihatin, rendah hati. Ciri-ciri tersebut terdapat pada diri Prahlada ,putra Hiranyakasipu. Prahlada sebagai seorang bhakta (penganut bhakti/penyembah) tidak pernah merasa takut terhadap ancaman dan melindungi keselamatan jiwanya. Ketegaran keyakinannya itu membawa rasa aman dan rasa rendah hati dan prihatin dalam setiap tindakannya.  

KEDUDUKAN BHAKTI    
Tiga kerangka dasar agama Hindu  adalah KARMA, BHAKTI DAN JNANA yang hampir pararel dengan konsep TATTWA, ETIKA DAN UPACARA. Ketiga konsep diyakini sebagai jalan /marga dalam usaha menghubungkan diri dengan Tuhan. Kedudukan bhakti sebenarnya merupakan bagian integral dengan karma dan jnana. Artinya seseorang yang melaksanakan karma marga tanpa rasa bhakti akan kehilangan kehalusan rasa,kehilangan etika dan sangat mungkin melanggar tatakrama. Demikian pula seorang jnana marga tanpa disertai bhakti terhadap Tuhan akan menjadi kering, tanpa rasa. Jadi kedudukan bhakti amatlah penting dalam setiap jalan yang dipilih. Tanpa rasa bhakti, seseorang akan mudah menjadi sombong,arogan dan kehilangan keseimbangan dalam menegakkan stabilitas kehidupan.      Tiga jalan yaitu karma,bhakti dan jnana bila dikaitkan dengan organ tubuh manusia dalam kehidupannya, maka dapat disimbolkan sebagai berikuit : 1. Jnana adalah proses kegiatan yang lebih menonjolkan aktivitas berpikir disimbolkan sebagai kepala manusia. 2.  Bhakti adalah proses kegiatan rasa yang lebih menonjolkan aktivitas intuisi perasaan yang disimbolkan sebagai hati manusia. 3.   Karma  adalah  proses kegiatan  atau  tingkah laku yang lebih menonjolkan aktivitas gerak anggota badan disimbolkan sebagai  kaki dan tangan manusia.     Satya Narayana menyatakan bahwa keberadaan ketiga konsep dasar agama hindu itu seperti sebuah mangga. 1. Karma Marga adalah seperti keadaan rasa mangga muda, sedikit agak asam atau sepet namun tetap enak kalau dijadikan rujak bila ditambah gula yang agak banyak. 2. Bhakti Marga adalah seperti keadaan rasa mangga setengah matang, terasa sedikit masam namun ada unsur manisnya. Jadi asam - asam manis yangbaik untuk dijadikan rujak tanpa perlu banyak diisi campuran gula. 3.   Jnana Marga adalah seperti keadaan mangga yang sudah ranum(masak), manisnya benar-benar menggelitik selera untuk minta  ditambah lagi dan tambah lagi.     Contoh lain seorang karma marga adalah seperti buah asam yang masih muda, bila kulitnya ditotok, isinya pun ikut kena luka karena antara kulit dan isi masih menyatu. Seorang bhakti marga seperti buah asam yang setengahmatang, bila ditotok kulitnya, isinya masih ada kemungkinan kena atau tidak, tergantung keras lemahnya totokan. Sedangkan seorang jnana marga seperti buah asam yang sudah tua betul. Kulitnya kering berwarna merah dan ada ruang pemisah dengan isinya. Bila kita totok , hanya kulitnya yang pecah berlubang, sementara isinya tetap ranum tidak terpengaruh. Artinya bila jnana seseorang telah tinggi, dia tidak mudah tersinggung bila diejek, tidak cepat marah . sebab ejekan hanya mengenai kulit luarnya saja, isinya tidak terpengaruh. Yang menjadi pertanyaan kita bersama KIRA-KIRA SEKARANG KITA ADA DI POSISI YANG MANA ???   

FUNGSI  BHAKTI     
Mengapa  kita harus berbhakti kepada Hyang Widhi/Tuhan? Ada banyak alasan yang cukup mendasar antara  lain ; 1.  Untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi, dan memohon perlindungan-Nya 2.  Untuk mendapatkan kedamaian lahir  batin(shanty) dan kebahagiaan (anandam) 3.  Untuk membayar utang budi (Tri Rna), Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya untuk kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Pembayaran segala fasilitas yang diberikan Tuhan bukan dengan uang tapi dengan YADNYA dalam arti yang luas sebagai wujud trimakasih dan syukur kita kepada Tuhan. 4. Untuk menyucikan diri 5. memohon agar dosakita diampuni baik dari pikiran, perkataan dan perbuatan (Tri Kaya Parisudha)  

CIRI-CIRI BHAKTI  
A. Dari segi kepasrahan 
1. Bhakti anak kera.     Anak kera yang masih kecil senantiasa menggelandung sambil berpegangan pada induknya di bagian perutnya. Cara bhakti seperti ini dianggap belum begitu pasrah karena masih mengandalkan kekuatan dirinya.. Sewaktu-waktu bisa saja karena payahnya si anak kera terlepas dari induknya karena tidak kuat lagi berpegangan. Bhakti seperti ini masih rendah dan kurang pasrah.         Ada sebuah cerita ilustrasi seperti berikut ; Seorang Brahmana menyeberangi sungai dengan pakaian baru, seorang penjahat yang sedang mencuci pakaian melihat dan  merebut pakaian tersebut. Semula Brahmana pasrah, tak melawan dengan menyebut : "OH NARAYANA ,TOLONGLAH" tetapi akhirnya Brahmana melawan juga dengan saling pukul. Tuhan dalam sebutan Narayana bangkit mau menolong Brahmana , tetapi surut kembali setelah melihat Brahmana tersebut berkelahi dengan penjahat. Dewi laksmi melihat gelagat suaminya bertanya : " ada apa? Setelah bangun dan berjalan mengapa duduk kembali?" Narayana menjawab;" Tadi ada Brahmana meminta pertolonganku karena diganggu penjahat. Akan tetapi , Brahmana tersebut melawan penjahat tersebut. Oleh karena dia telah melawan dengan kekuatan sendiri untuk apa saya lindungi? Biarkan dia melawan sesuai dengan batas kemampuannya" 

2. Bhakti anak kucing.     Seperti dimaklumi induk kucing mau mengajak anaknya pergi, maka anak kucing yang masih bayi itu digigit tengkuknya. Bayi kucing itu pasrah total, menyerahkan segalanya kepada induknya mau dibawa kemana saja terserah induknya. Bhakti seperti ini tingkatannya lebih tinggi bila dibandingkan dengan bhakti anak kera tadi diatas.     Ada sebuah cerita ilustrasi seperti berikut ; Ada dua orang Rsi bersahabat kental,suatu ketika meraka berpisah untuk meneruskan tapanya , masing-masing  membawa stek bunga mawar untuk ditanam ditempat masing-masing sebagai persembahan kepada Tuhan. Setelah beberapa tahun berlalu kedua Rsi bertemu dan keduanya menayakan keadaan masing-masing bunga mawar yang dibawa dulu.  RSI A ; " bagaimana bunga mawarmu apakah mau berbunga lebat?" RSI B ; " mawarku mati tidak sempat berbunga?' Rsi A ; " bagaimana cara memeliharanya kok bisa mati "? RSI B ; " Setiap aku merasa dia perlu air, aku berdoa kepada Tuhan agar hujan turun dn doaku terkabul. Setiap aku merasa perlu sinar  matahari, aku memohon agar Tuhan memberi cuaca panas. Tetapi toh juga mati" RSI A ; '" mawarku berbunga cukup banyak dan subur, cara aku memeliharanya bukan seperti anda. Aku serahkan, aku pasrahkan kepada Tuhan, kapan Tuhan memandang pantas hujan, silakan. Kapan pula Tuhan memandang pantas untuk diberi sinar,yah supaya diberi sinar selain itu aku juga menyiramnya untuk beberapa saat. Tugasku hanya berdoa dan bekerja. Dari ilustrasi cerita diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kita jangan mencoba untuk mengatur dan memohon kepada Tuhan sesuai dengan selera dan kehendak kita sendiri, sebab yang dikehendaki belum tentu baik untuk diri kita dan untuk bunga mawar tadi.  

B. Dari segi sikap badan/tubuh.
Cara kita menyembah dalam persembahyangan termasuk ke dalam sikap bhakti juga.  Ada tiga sikap bhakti yang diekspresikan kedalam gerakan tubuh atau anggota badan sebagai berikut :  1. Sikap Kertanjali      a. Berdiri dengan sedikit membungkuk sambil mencakupkan kedua belah tangan ditaruh di atas ubun-ubun/sedikit diatas alis mata (sembahyang) atau didepan dada (panganjali umat).      b.  Sambil duduk ;padmasana, silasana untuk pria dan bajrasana untuk wanita. 2. Sikap Sastangga.            Sikap bhakti seperti ini adalah sikap tubuh yang sujud yakni duduk dengan menyentuh dahi kelantai disertai mencium lantai.  3.  Sikap Dandawat.     Sikap bhakti dengan merebahkan diri ke lantai seperti orang tiarap dan mencium lantai. Ketiga sikap di atas secara mental mempunyai peluang yang sama tergantung dari yang melakukannya.   

C. Bhakti di tinjau dari teknik dan sikap mental.
Hal ini disebutkan dalam Nawa Widha Bhakti (sembilan sikap bhakti) terdiri dari : 1. Svaranam = mendengarkan ajaran/cerita suci Bg.XVIII.70-71 mereka yang mempelajari percakapan suci kami berdua, walaupun hanya sekedar mendengar,ia mencapai dunia kebahagiaan 2. Kirtanam=melantunkan kidung suci yang sarat dengan nama-nama Tuhan 3. Smaranam=mengingat nama Tuhan, mengingat kebesaranNya, kemuliannya dll.     Bg. X.9 = memikirkan tentang Aku,mereka merasa puas dan bahagia 4. Sevanam=melayani mahluk lain;orang sakit,miskin, tertimpa musibah dll 5. Vandanam = bersyukur terhadap keberadaan diri kita 6. Arcanam=bhakti dengan cara memuja pratima sebagai media bhakti dan penghayatan kepada Tuhan. 7. Dasyam=menganggap pujaannya sebagai tamu,majikan,bos dan kita sebagai pelayan atau abdi. 8. Sukham=memperlakukan pujaannya sebagai sahabat dan keluarganya seperti arjuna dan krishna. 9. Atmanividanam=bhakti dengan kepasrahan total kepada Tuhan.  

D. Bhakti di tinjau dari sarana yang digunakan 
1. Avahanam=bhakti dengan mengundang Tuhan (ngelingihang Bhatara) 2. Asanam=membuat pelingih sebagai tempat duduk Ista Dewata 3. Padyam= Mempersembahkan air pencuci kaki Tuhan(Banyun cokor) 4. Arghyam=mempersembahkan air (Tirtha) 5. Niranjanam =mempersembahkan api (dupa) 6. Archanam= mempersembahkan air(madu/susu) untuk di minum oleh Ista Dewata  Demikianlah beberapa ciri-ciri  bhakti dan sikap bhakti semoga bermamfaat bagi kita umat se-dharma.

DANA PUNIA SWADHARMA UMAT HINDU

Pengertian 
Dana punia  terdiri dari dua kata yaitu “dana” yang berarti pemberian sedangkan “punia” artinya selamat, baik, bahagia, indah dan suci. Jadi dana punia adalah pemberian yang baik dan suci. Sedangkan swadharma adalah kewajiban diri sendiri atau masing-masing dari pribadi seseorang. Dan yang disebut umat Hindu adalah orang yang percaya akan ajaran suci Weda.  Weda diwahyukan  untuk seluruh umat manusia apa pun suku,warna kulit,bahasa dan bangsanya. Hal tersebut dijelaskan  dalam Yayur Weda XXVI. 2. "Yatdhemam vacam kalyanim avadani janebyah, brahma rajanyabyam sudraya caryaya ca svaya caranaya ca"  artinya : Hendaknya disampaikan sabda suci (Veda) ini kepada seluruh umat manusia,cendekiawan-rohaniwan (varnab rahmana);p eminpin pemerintahan /kemasyarakatan  (varna ksatria);para pedagang,petani dan nelayan (varna waisya) serta para buruh/pekerja (varna sudra) , kepada orang-orangku dan orang asing sekalipun. Bertitik tolak dari sloka suci tersebut, ajaran suci Weda hendaknya disebarluaskan kepada seluruh umat manusia. Weda bukan monopoli orang India, Orang Bali, orang Dayak dan orang Jawa. Weda adalah milik semua orang yang mengakui dan percaya akan kebenaran Weda yang merupakan sanatana dharma.  
Hukum Dana Punia    
Yang menjadi landasan pelaksanaan dana punia adalah : ajaran Weda  Smerti,Tat Twam Asi, Manawa Dharmasastra, Sarasamuscaya, Ramayana, dan Nitisastra. Adapun bentuk dana punia secara garis besar  terdiri dari tiga yaitu : 1.  Desa Dana yaitu dana punia berupa tanah­-bisa untuk pura,setre, sekolah dll. 2.  Vidya Dana yaitu dana punia berupa ajaran  agama dan ilmu pengetahuan. 3. Artha Dana yaitu  dana punia berupa pemberian uang atau benda-benda material lainnya seperti pakaian, makanan, penginapan dll.     Dari ketiga bentuk dana punia di atas, artha danalah yang paling mudah untuk dilaksanakan. Kenapa dikatakan mudah ? Karena manusia yang hidup di muka bumi ini pasti  memiliki apa yang dinamakan dengan artha. Artha itu bisa berupa sebungkus nasi, pakaian, sebutir telur atau sesendok garam. Dengan hal-hal yang kecil dan sederhana ini semestinya Anda tidak kikir ? Anda mampu melakukannya. 
Dana punia hukumnya wajib untuk dilaksanakan oleh umat Hindu. Hal ini jelas di amanatkan dalam Atharva Veda III.2.4.5 yang berbunyi : Sata hasta sama hara sahasrahata sam kira Artinya :  Wahai umat manusia, perolehlah kekayaan (melalui jalan dharma) dengan seratus tanganmu, dan dermakanlah itu dengan kemurahan hati dengan seribu tanganmu.  Sloka diatas  mengajak agar umat manusia mencari harta atau kekayaan dengan seratus tangan tetapi setelah berhasil harta tersebut di danapuniakan/didermakan dengan tulus iklas dengan seribu tangan. Makna sloka di atas jika diperhatikan dengan pikiran yang bersahaja sepertinya sesuatu yang aneh. Bagaimana mungkin mencari harta dengan seratus tangan lalu didermakan dengan seribu tangan. Makna sloka di atas harus di lihat lebih dalam melalui perenungan dengan pikiran yang jernih.  Yang dimaksud dengan  mencari harta dengan seratus tangan itu adalah mengusahakan lapangan kerja kepada masyarakat luas. Kemampuan menciptakan lapangan kerja untuk seratus tangan yang di ajak mencari harta secara terhormat berdasarkan dharma. Setiap orang hendaknya berupaya untuk  menciptakan lapangan kerja bagi diri dan orang sekitarnya. Karena kita mengakui dan menyakini otoritas Weda, yang merupakan  wahyu Tuhan yang “bernada” perintah dengan demikian tanpa keraguan sedikit pun kita dapat simpulkan bahwa berdana punia adalah wajib hukumnya bagi umat Hindu. Perintah wajib artinya untuk ditaati dan dilaksanakan.  Kita semua berkewajiban untuk melakukan dana punia sesuai dengan swadharma kita masing-masing sebagai umat Hindu.  
Dana punia dapat  disalurkan kepada orang yang membutuhkan atau yang berhak menerima seperti : guru rohani/nabe, sulinggih, orang miskin, orang cacat, siswa putus sekolah, orang yang terkena musibah, tempat suci, lembaga sosial,pasraman/pendidikan dan lain sebagainya.  
Tentang keutamaan dana dijelaskan dalam Manawa Dharma Sastra I. 86,  bahwa pada jaman kertya yuga tapalah yang utama, jaman trata yuga jnanalah yang utama,jaman dwapara yuga yadnyalah yang utama dan pada jaman kali yuga danalah yang utama.       Hidup ini berputar terus seperti roda kadang kita dibawah, kadang di tengah ,kadang diatas dan kemudian turun kebawah lagi. Ini adalah hukum Tuhan yang disebut dengan Rta. Ketika kita berada di posisi atas(puncak), menolehlah kebawah dan bantulah orang lain yang membutuhkan, suatu ketika kita pasti akan membutuhkan uluran tangan orang lain. Seteguk air bagi yang haus akan menghilangkan rasa dahaga, sejumput nasi bagi yang kelaparan akan menambah tenaga dan  setiap rupiah yang kita sumbangkan akan sangat berguna bagi orang lain.Harta merupakan titipan Tuhan yang diperoleh dengan jalan dharma dan digunakan dengan tujuan dharma pula itulah yang utama.”Kekayaan tidak pernah berkurang oleh kemurahan hati karena di dana puniakan. Orang kikir tidak pernah menemukan orang yang belas kasihan” demikaian termuat dalam Rgveda,X.117.1.  
Agar kita tidak kikir terhadap kekayaan yang kita miliki ada rumusnya.Rumusnya terdapat pada TUKANG PARKIR. Tukang parkir walaupun mobilnya banyak dengan berbagai merek, dia tidak pernah mengeluh kalau suatu saat mobil tersebut diambil satu persatu oleh pemiliknya. Dia tetap iklas karena selama ini dia merasa dititipi bukan memiliki. Kekayaan jangan disimpan dihati. Sepatu bagus tempatnya dikaki, jangan simpan dihati, simpan dihati kita jadi tinggi hati, lihat yang lain punya sepatu lebih bagus jadi iri hati, sepatu bagus hilang kita jadi sakit hati, sakit hati tak terobati kita jadi mati ( terima kasih Aa Gym).  
Pedoman Dalam Memberikan Dana Punia      
Ada lima  pedoman dalam memberikan dana punia antara lain : 
1.  Iksa (tujuan), apakah punia yang kita berikan benar-benar memiliki tujuan yang murrni dari sebuah kesadaran untuk membantu, bukan sekedar ikut-ikutan  atau karena terpaksa. " Mereka yang mendapatkan penghasilan dengan jujur dan menyumbangkannya dengan murah hati dan mereka mempersembahkan pekerjaan kepada Tuhan” (Rgveda 1 .15. 9). Harta yang kita peroleh harus dengan jujur dan berdasarkan Dharma. Harta yang diperoleh dengan tidak jujur seperti korupsi , tidak layak dipersembahkan kepada Tuhan. 
2.  Lascarya (keiklasan), punia yang kita berikan benar-benar dilandasi oleh rasa tulus iklas. " Mereka yang berdana punia secara sukarela ,  akan mencapai kebahagiaan & umur panjang (Rgveda 1. 125.6).  Ini janji Tuhan bahwa orang yang melakukan dana punia secara sukarela bukan karena paksaaan atau sekedar ikut ikutan akan mendapat kebahagiaan dan umur panjang didunia.   
3.  Sakti (kekuatan), punia harus sesuai dengan kemampuan atau kekuatan kita dengan tetap mengedepankan aspek proporsional. “ . . . bukanlah jumlah yang banyak atau sedikit pemberian itu yang menghasilkan banyak sedikitnya pahala,tetapi tujuan utama pemberian itu yang penting dan cara memperoleh harta yang tidak melanggar dharma”(Slokantara 184). Janganlah malu berdana punia walaupun sedikit,malulah kalau sampai tidak berdana punia, tetapi janganlah berdana punia karena malu. Demikian pesan orang bijak. 4.  Nasmita (tidak pamer), tidak membangga-banggakan diri karena selalu atau telah berdana punia. Jangan meminta nama anda di muat dikoran. Jangan sedih kalau nama anda lupa/belum  dibaca oleh petugas yang menangani dana punia. 
5. Sastra (berdasarkan tattwa), berdana punia karena memang memahami dasar tattwanya atau landasan filosofisnya yang termuat dalam sastra suci.     Sebagai warga negara yang baik kita selalu taat membayar pajak kepada pemerintah . Bagi PNS, TNI dan Polri, pajak langsung dipotong melalui  gaji sebesar 15 %(PPH) Sebagai umat Hindu yang taat,kesadaran membayar pajak  hendaknya juga diimbangi dengan kesadaran berdana punia dalam arti yang lebih luas. Harus diakui bahwa kesadaran berdana punia sebagian besar umat Hindu masih terbatas pada kegiatan pembangunan pura dan ritual keagamaan. Akibatnya kita lebih mudah menemukan bangunan pura yang berdiri dengan megah meskipun tidak maksimal dimamfaatkan bahkan tidak jarang fungsi pura disalahgunakan. Kita sering mendengar  upacara keagamaan dengan biaya ratusan juta bahkan sampai milyaran rupiah. Akan tetapi kita teramat miskin untuk menemukan bangunan atau sekolah bernuansa Hindu, punia berupa beasiswa kepada siswa Hindu,pelatihan-pelatihan guna meningkatkan SDM Hindu masih jauh dari harapan.  
Dana punia merupakan instrumen sosial untuk merealisasikan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan menuju lokasamgraha. Dan punia merupakan tanggung jawab sosial setiap individu untuk berbagi dengan yang lain. Dana punia adalah wujud konkrit dari sevanam  atau pelayanan kepada sesama manusia.Karena sesungguhnya manawa seva (pelayanan kepada sesama manusia) adalah madhawa seva (pelayanan terhadap Tuhan). Swami Vivekananda pernah berpesan bahwa jika anda menginginkan Tuhan, maka layanilah manusia.
Sebagai penutup penulis mengajak  menyimak sebuah cerita. Dengan harapan cerita ini dapat  menjadi inspirasi bagi anda dalam melakukan dana punia. Ceritanya sebagai berikut: suatu ketika rombongan kerajaan lewat diperkampungan, ditengah perjalanan raja dan pasukan berhenti ketika melihat orang yang sudah tua renta sedang menanam pohon durian. Patih bertanya kepada kakek tersebut " Kakek  hari gini kok baru  tanam durian, kapan bisa menikmati hasilnya? Kakek menjawab, eh eh .. h ... h  jangan berkata begitu, bukankah kita sekarang menikmati apa yang ada atas jasa-jasa orang yang sudah meninggal. Masak kita tidak mau berbuat sesuatu untuk anak cucu kita. Mendengar penjelasan kakek tersebut raja mendapat pencerahan dan memerintahkan patihnya untuk memberi hadiah berupa emas pada kakek tersebut. Kakek tersebut lalu menerima hadiah dari raja yang dermawan sambil bergumam di dalam hati '  eh eh baru u u ... juga tanam sudah berbuah. Makna cerita di atas adalah mumpung masih hidup maka jangan pernah menunda-nunda dalam berbuat kebaikan sekecil apa pun itu ia tetap akan berbuah. Ingat pesan  Sarasamuscaya 168 ” . . . orang yang hampir mati dana punia adalah sahabatnya”. Untuk itu mari sisihkan sebagian kecil harta yang kita miliki dan danapuniakan kepada mereka yang berhak dan membutuhkannya.                    
Referensi : 
Sudartha,Tjok Rai, 2003, Slokantara Untaian Ajaran Etika Teks,Terjemahan dan Ulasan, Penerbit Paramita:Surabaya.  
Titib, I Made ,1998, Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan , Penerbit Paramita:     Surabaya.  
Wiana, I Ketut, 2006 ,Berbisnis menurut Agama Hindu  , Penerbit Paramita : Surabaya.

Rabu, 24 November 2010

AIDS PERSFEKTIF AGAMA HINDU

Pengertian AIDS
AIDS adalah sekumpulan gejala-gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang berarti virus pemusnah kekebalan  tubuh. Penyakit ini sudah terdapat hampir di semua Negara, apakah di negara-negara maju ataupun di negara-negara yang sedang berkembang. AIDS juga diartikan gabungan bermacam-macam penyakit, gejala dan tanda-tanda yang timbul karena adanya penurunan kekebalan tubuh. Seperti diketahui bahwa system kekebalan tubuh adalah untuk mempertahankan tubuh dari infeksi dan penyakit. HIV yang masuk ke dalam tubuh akan menghancurkan sel-sel darah putih yang mempunyai peran utama dalam system kekebalan tubuh manusia. Dengan makin banyaknya sel darah putih yang dimatikan oleh HIV, akhirnya pertahanan tubuh manusia kian melemah sehingga  tidak sanggup lagi memerangi masuknya kuman, bakteri serta virus lainnya. Akibat selanjutnya dapat diduga bahwa penderita AIDS tersebut akan meninggal karena penyakitnya yang parah. Pada fase lanjut, HIV juga dapat menyerang sel otak dan susunan saraf tubuh secara langsung, sehingga menimbulkan gangguan mental dan koordinasi tubuh.

Penyebab Terjangkitnya AIDS
Seperti telah diuraikan sebelumnya virus HIV adalah salah satu penyebab terjangkitnya penyakit AIDS ke tubuh manusia. virus HIV yang telah masuk ke tubuh manusia akan menempati darah, air mani  dan cairan vagina. Apabila salah satu dari ketiga cairan tubuh dari orang terinfeksi HIV berhasil memasuki aliran darah orang lain yang masih sehat maka ada kemungkinan orang yang sehat ini akan terkena virus HIV dari orang yang sudah terinfeksi secara positif. Virus HIV mampu menembus tubuh manusia, kalau pada tubuh seseorang terdapat luka-luka atau goresan pada kulit tersebut. Lain halnya dengan vagina, penis, dubur dan mulut yang mempunyai selaput lendir (mukosa), yaitu lapisan tipis yang menutupi pembuluh-pembuluh darah di bawahnya. Lapisan itu mempermudah meresapnya virus HIV. Kalau pada daerah vagina, penis, dubur dan mulut terdapat luka atau goresan, maka mudah bagi virus HIV masuk ke dalam darah manusia.   

Cara penularan AIDS
Sebenarnya virus HIV tidak mudah menular ke tubuh orang lain seperti halnya virus influenza. Adapun cara penularan AIDS adalah :

a.  Melalui hubungan seksual
Yang dimaksud hubungan seksual di sini adalah hubungan yang dilakukan secara vagina, anal dan oral. Hubungan oral adalah hubungan seksual yang menggunakan mulut sebagai pengganti vagina mempunyai resiko lebih kecil dibandingkan hubungan vagina atau anal. Perlu diperhatikan bahwa selama hubungan kelamin berlangsung, air mani, cairan bagina dan kadang-kadang darah mengenai selaput lendir vagina, penis, dubur atau mulut akibatnya HIV yang terdapat dalam cairan-cairan tersebut dapat meresap ke dalam aliran darah. Tambahan pula kalau daerah vagina, penis, dubur atau mulut terdapat luka atau goresan, maka HIV mudah masuk ke dalam aliran darah.

b.  Transfusi darah
HIV dapat menular bila seseorang menerima transfusi darah dari seorang donor darah yang terkena infeksi HIV. Karena alasan ini, banyak Negara melakukan pemeriksaan secara teliti terhadap persediaan darah sebelum ditransfusi ke tubuh orang lain. Apabila pemeriksaan darah tidak dapat dilakukan, maka sebaiknya :
*  Mengurangi atau menghindari dilakukannya transfusi darah yang kurang perlu.
* Memilih donor darah yang tidak terinfeksi HIV atau sekurang-kurangnya  mempunyai resiko rendah untuk terinfeksi HIV.

c. Melalui alat suntik atau alat tusuk lainnya
Infeksi dapat terjadi bila seseorang diketahui atau tanpa diketahui sudah disuntik dengan jarum yang sudah dipakai untuk menyuntik orang lain yang terinfeksi HIV. Disamping itu juga alat-alat yang tajam seperti pisau bedah, atau jarum untuk membuat sayatan di kulit, menyunat seseorang, membuat tato juga dapat menularkan virus HIV.

d.  Dari ibu hamil yang mengidap virus HIV kepada janinnya
Bila sang ibu telah mengindap birus HIV, maka janin yang ada di dalam rahimnya dapat terinfeksi pada saat proses kelahiran berlangsung. Jika ibu baru terinfeksi HIV, tetapi belum menampakkan gejala-gejala AIDS, maka kemungkinan bayi yang dikandungnya terinfeksi 20% - 35%. Sebaliknya bila sang ibu benar-benar sudah menunjukkan gejala-gejala AIDS yang jelas, maka kemungkinan bayinya terinfeksi HIV menjadi 50%. Yang perlu diperhatikan adalah bila bayi tersebut dilahirkan sebagai pengindap HIV, maka usianya hanya sekitar 1-5 tahun saja.

Kapan dan Dimana HIV tidak menular
Sesuai hasil penelitian para medis diketahui bahwa virus HIV tidak akan menular melalui :
-    Peralatan makan , pakaian, toilet dan lain-lain yang dipakai bersama dengan pengidap HIV;
-    Berpelukan, berjabat tangan, berciuman dengan orang yang terinfeksi HIV 
-    Hidup serumah dengan orang yang terinfeksi HIV;
-    Serangga seperti nyamuk, kupu-kupu, tawon,  dan lain-lain.

Pandangan Hindu Terhadap AIDS
Sudah menjadi kodrat bagi kehidupan di bumi bahwa suka (kesenangan,kebahagiaan), dukha (penderitaan),lara (sakit) dan pati (kematian), tidak dapat dihindari oleh manusia, kenyataan hidup membutuhkan, beberapa orang mengenyam kebahagiaan dalam hidupnya,namun di pihak lain tidak sedikit orang mengalami penderitaan. Termasuk banyak orang menderita karena penyakit AIDS.

Di dalam ajaran Hindu dijelaskan bahwa sesungguhnya hampir tidak ada peristiwa/hal yang terjadi di jagad raya ini, lepas/terbebas dari hukum “Karma Phala” (sebab akibat). Setiap peristiwa yang terjadi (akibat) jelas dikarenakan/diakibatkan oleh satu “penyebab”, sebaliknya “sebab” (dikehendaki atau tidak) niscaya akan ada akibatnya. Semua ini tak dapat dihindari, sebab demikianlah dititahkan oleh Sang Pencipta (Tuhan), sebagaimana dapat dikaji dari nilai-nilai tersurat dalam Sloka Sarasamuccaya ,Sloka 7,berikut ini :

Karmabhumiriya bhahman, Phalabhumirasau mata
Iha yat kurute karma tat, paratropabhujyate 
Artinya  :
Sebab kelahiran sebagai manusia sekarang ini akibat baik atau buruknya karma itu juga yang akhirnya dinikmati karma phala itu.Maksudnya baik buruk perbuatan itu sekarang akhirnya terbukti hasilnya, selesai menikmati menjelmalah ia kembali, mengikuti sifat karma phala. Wasana berarti sengsara, sisa-sisa yang ada dari bau sesuatu yang tinggal bekas-bekasnya saja, itulah yang diikuti sebagai pribahasa, kelahiran dari surga (swarga cyuta), kelahiran dari neraka (neraka cyuta) baik buruk karma itu di surga, tanda ada pahalanya. Karena itu pergunakanlah sebaik-baiknya hidup ini untuk melakukan perbuatan baik
   
Bertolak dari kajian di atas maka dapat dinyatakan bahwa adanya berbagai penyakit, termasuk AIDS pun, tentunya menerima ciptaan Tuhan sebagai Maha Pencipta. Dalam kaitan pembahasan penyakit sebagaimana tersebut di atas perlu kita cermati  Sarasamuccaya, Sloka 30,berikut ini  :

Pura cari ramantako bhinakti, Rogasarathih
Prasahya jiwitaksaye cubham, Mahat samaharet 
Artinya  :
Sebab yang disebut kematian, segala macam penyakit itu merupakan pengemudinya, yang menyebabkan hidup itu berkurang, jika sudah kurang usia hidup datanglah maut, karena itu jangan lupa supaya diusahakan berbuat baik yang akan mengantarkanmu ke asal mulamu.

    Berdasarkan  “Sloka” atau ayat tersebut jelaslah bahwa penyakit dimaksud diadakan ke dunia oleh Sang Pencipta untuk maksud tertentu dan juga disebabkan oleh sebab-sebab tertentu. Sebab-sebab tersebut pada hakekatnya dikarenakan oleh unsur manusia sendiri terutama oleh kelalaian atau pelanggarannya atas hukum-hukum kehidupan yang telah ditentukan oleh Tuhan. Justru untuk memberikan peringatan atau bahkan ganjaran kepada prilaku-prilaku manusia yang melanggar norma-norma  hidup di jagad raya ini.

    Kemungkinan –kemungkinan untuk adanya pelanggaran norma tersebut tadi dapat saja terjadi , mengingat manusia memang diberi kekuasaan dalam hal-hal tertentu oleh Tuhan untuk berpikir dan mengembangkan kehidupannya guna mencapai tujuan hidupnya.

    Dalam keleluasaan itulah, sekaligus terdapat peluang adanya variasi/yang bahkan terkadang berkategori Asubha Karma atau yang dalam hidup keseharian disebut dengan penyimpangan hidup. Kemungkinan timbulnya penyimpangan itulah yang telah diantisipasi oleh Sang Pencipta dengan memberikan konsekwensi terhadap penyimpangan tadi berupa “penyakit”. Tentunya diharapkan dengan penyakit-penyakit tersebut dalam diri manusia akan timbul rasa takut untuk melanggar norma-norma hidup yang telah digariskan. Demikian pula bagi yang terlanjur membuat kekeliruan dengan ancaman (penyakit) tersebut, yang bersangkutan dapat menjadi jera atau kapok.

    Walaupun sampai saat ini penyakit AIDS belum ditemukan obatnya, kita tidak boleh menyerah begitu saja, paling tidak kita harus berupaya untuk menghadapinya dan berusaha menyelamatkan tubuh kit aini, yang merupakan anugrah Tuhan yang paling berharga dalam rangka mencapai tujuan hidup kita. Berkenan dengan hal tersebut, Weda menyatakan ” Dharmartha kama moksanam sariram sadanam ”  yang artinya tubuh (mu) itu adalah sadana/sarana untuk meraih tujuan(mu) berupa dharma, artha, kama dan moksha.

Menyadari  peranan tubuh yang demikian penting,maka kita(yang belum sakit) perlu waspada agar tidak terjangkit. Demikian pula yang telah dinyatakan positif mengidap AIDS, agar bisa menerima dengan jiwa besar,serta mencari upaya penanggulangan lewat petunjuk weda dan vidya (pengetahuan). Bukankah kesehatan selalu tampak lebih berharga setelah kita kehilangannya demikian pesan para bijak.

     Sebagai kesimpulan, Hindu memandang bahwa HIV/AIDS ada didunia ini dimaksudkan sebagai rem/pengendali perilaku manusia terutama yang cenderung akan menyimpang dari  dharma (kebaikan/kebajikan/moralitas). Adharma  atau perbuatan yang tidak baik  yang bertentangan dengan agama hendaknya dihindari  sehingga tujuan hidup didunia yaitu Catur Purusa Artha dapat tercapai.
   


Referensi :
1.    Kajeng, I Nyoman dkk, 2003, Sarasamuscaya,  Paramita , Surabaya.
2.    Tim Penyusun,2003, Pencegahan dan Penangulangan AIDS Menurut Pandangan Hindu, Depag RI, Jakarta.
3.    Yatim, Danny Irawan, Dialog Seputar AIDS, Grasindo,Jakarta.
.






Rabu, 10 November 2010

MENINGKATKAN BUDAYA MEMBACA DAN MENULIS ( Memaknai Hari Raya Saraswati)

Salah satu peninggalan Almarhum Pak Harto yang layak dilestarikan dan terus diberi makna adalah penetapan bulan Mei sebagai “Bulan Buku” dan bulan September sebagai “Bulan Gemar Membaca”. Buku dan gemar membaca adalah dua hal yang terkait erat dengan kegiatan menulis. Untuk membaca, kita perlu buku;untuk menerbitkan buku harus ada penulis, dan tentu saja penerbit. Untuk bisa menulis kita perlu banyak membaca.

Banyak orang tahu membaca,tetapi belum punya budaya membaca. Apalagi menulis. Tulisan kecil ini mau mengajak kita terutama generasi muda,untuk menumbuhkan gemar membaca dan astungkare,jika kemudian hari gemar menulis.      Dulu, orang yang tahu baca-tulis adalah orang yang paling beruntung . Ia bisa diterima bekerja. Ia dengan mudah diangkat menjadi pegawai atau karyawan pada perusahaan swasta. Sekarang sudah jauh berbeda, kita hidup di zaman yang  menjunjung tinggi kualitas,wawasan yang luas,kompetensi keilmuan,kreativitas dan daya saing  globalisasi. Kita dituntut untuk memiliki kemampuan yang lebih daripada sekedar tahu membaca. Kontek dunia dengan globalisasi dan modernisasi yang kuat mensyaratkan manusia-manusia yang berkualitas,mandiri,kreatif dan inovatif. 
   
Tantowi Yahya,seorang presenter yang dinobatkan sebagai Duta Baca oleh perpustakaan RI, di sebuah iklan layanan di stasiun televisi, mengatakan "orang yang jarang baca sangat dekat dengan kebodohan, dan kebodohan dekat dengan kemiskinan". Mengacu pada iklan tersebut, mari kita renungkan bersama sementara di level mana kita berada ? Di level gemar membaca ataukah di level jarang membaca?. 

**   
Tingkat buta huruf umat Hindu yang masih tinggi bila dibandingkan dengan agama lain. Memerlukan usaha dan kerja keras bersama untuk menuntaskannya. Setidaknya ada dua hal penting yang mesti diperhatikan untuk memberikan makna yang lebih berarti bagi perayaan hari Saraswati. Pertama: pembenahan mutu pendidikan Hindu di setiap jenjang. Dengan berbagai aspek antara lain : peningkatan kesejahteraann guru, perbaikan kurikulum,sistem pendidikan, peningkatan kualitas dan kuantitas guru agama khususnya di luar  Bali, pembenahan sarana dan sarana pendidikan seperti pembenahan kualitas perpustakaan, kerja sama dengan orang tua siswa, dll. Kedua : menjadikan aktifitas membaca sebagai budaya. Yah membaca buku  harus dibudayakan, sebab buku adalah jendela dunia. Dengan membaca kita jadi melek pengetahuan. Budaya membaca merupakan prasyarat dasar untuk mengetahui lebih banyak tentang kompleksitas persoalan dunia tempat kita berpijak, dengan segala harapan dan kecemasan yang menghantui. Setiap peluang dan tantangan yang menghadangnya. Dengan membaca kita memperoleh berbagai informasi , memperdalam pengetahuan, melatih ketrampilan dan   meningkatkan kecerdasan. Kita bisa berkelana kemana-mana walau kaki tetap dirumah dengan membaca buku.     

Teknologi boleh berkembang pesat, koran, majalah, buku-buku melimpah, internet, akan tetapi bila masyarakatnya tidak punya minat baca, maka semuanya akan  menjadi tidak berguna dan nihil makna. Kita akan tetap miskin ilmu dan miskin informasi. Kita akan tetap berada ‘dalam tempurung’. Kita akan tetap menjadi becak ditengah arus busway yang melintas dengan cepatnya.      

Tidak dapat dipungkiri, bahwa budaya membaca  umat masih rendah dan harus ditingkatkan. Budaya berkumpul dan budaya lisan masih sangat kuat mengikat masyarakat kita. Jangankan masyarakat non akademis, masyarakat akademis pun masih “jauh panggang dari api” . Minat baca dosen,guru,mahasiswa dan siswa masih jauh dari harapan.      

Tantangan dan hambatan yang  terberat membaca saat ini adalah hadirnya televisi. Kapan saja, dimana saja jika memungkinkan, orang lebih senang mengikuti berbagai acara televisi,terutama acara hiburannya. Format acara televisi sama dengan teater , yang meneruskan budaya lisan.  Dari televisi kita melihat dan mendengar . Imajinasi tidak berkembang bebas,karena di kontrol oleh gambar (image). Dan jika suatu acara dianggap penting kita perlu ‘membacanya’ kembali, ia sudah tidak ada. Begitu juga dengan internet , kemampuannya menyiapkan berbagai informasi hanya dapat digunakan jika dibaca.    

 Dengan terbit dan beredarnya majalah seperti Media Hindu, Raditya,Sindu,Suara Anandam dan yang lainya. Yang memuat tema sentral nilai-nilai Hindu dalam kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan di Indonesia. Khusus buku-buku terbitan Media Hindu yang mendapat sambutan hangat dari umat yang haus akan bacaan yang bermutu,berani, dan kritis.Kedepan diharapkan minat baca umat semakin meningkat Sehingga bukan sekedar tahu membaca tetapi menjadikan aktivitas membaca sebagai budaya..    

Perlu juga dipikirkan pemberian hadiah berupa buku pada perayaan ulang tahun, juara kelas, pernikahan, perpisahan ,dll, bukan hanya sekedar ajang “kumpul amplop” melainkan sebagai ajang “kumpul buku” untuk menumbuhkan minat baca. Dana Punia yang terkumpul pada Hari Raya Saraswati disisihkan untuk perbaikan kualitas perpustakaan yang ada dimasing-masing pura. Hal ini bukan tidak mungkin dicapai bila ada niat dan tekat kuat serta kesungguhan untuk mengusahakannya. Dengan demikian perayaan Saraswati tidak hanya sekedar melakukan ritual semata tetapi menjadi momen untuk menumbuhkan budaya membaca.. Semoga terwujud.